Diposkan pada Angst, Hurt, Love, Moonlight, Sad Story, Sunflower

Love Dust

Apakah aku terlalu salah jika mencintaimu terlalu dalam?

Tak ada kata yang mampu aku keluarkan.

Karena mulut ini masih kelu rasanya.

Teringat semua kata-kata yang pernah terucap dari bibirmu, dan perasaan yang membuat aku jatuh terlalu dalam.

Aku tak menyalahkan Tuhan ataupun takdir yang telah mempertemukan kita.

Aku hanya marah pada diriku sendiri yang terlalu mencintaimu.

Bahkan untuk bersikap egois aku tak pernah sanggup.

Aku yakin Tuhan punya rencana lain yang lebih baik dari ini.

Tanpa kamu tahu, setiap hari tangan dan air mata ini menjadi saksi untuk siapa aku berdoa.

Aku hanya akan menelan kepahitan yang ada demi manis di hidupmu.

Tidakkah aku terlalu lemah? Entahlah, yang pasti aku hanya ingin kamu bahagia meskipun tak bersamaku.

Bahkan aku selalu berdoa pada Tuhan untuk menghapus cinta ini.

Mimpi dan harapanku terlalu jauh kau tahu? Hingga kenyataan paling pahit pun telah kuterima.

Senyum itu, senyum yang pernah menjadi milikku walaupun hanya sedetik kini telah berpindah kepemilikannya.

Tidakkah aku terluka? Bahkan kau tak pernah bertanya tentang kenyataan itu

Pernahkan kau bertanya bagaimana hancurnya aku? Perasaanku? Masihkah cinta ini untukmu? Tidak, kau tak pernah bertanya itu.

Aku selalu berusaha melindungimu, tapi kau selalu meremehkan usahaku dengan kata-katamu yang membuatku hancur.

Bahkan yang paling membuatku hancur, ketika kau dihadapkan pada sebuah pilihan antara tetap bersamaku atau bersamanya dan melindunginya, kau memilih pilihan kedua.

Aku bodoh memang, mencintai seseorang bahkan menanyakan “apa kau sudah makan “ saja tidak pernah.

Kau seolah pria yang menjilat ludah sendiri, kau selalu berkata “Hal yang membuatku lemah adalah melihat wanita menangis” lantas apakah kau lemah ketika melihat air mataku jatuh? TIDAK kau bahkan  berbicara seolah aku wanita yang rendah karena tanpa malu selalu mencintaimu.

Iya aku akui, bahkan mungkin rasanya aku sudah tak punya harga diri karena selalu memberikan cinta, kasih sayangnya dan semangatnya hanya untuk pria yang tak pernah sedikitpun ingin dekat denganku

Apakah kebencian itu ada? Entahlah, aku tak sanggup untuk mengatakan bahwa aku memebencimu.

Karena setiap sudut ucapanku selalu aku tarik kembali ketika kau membuatku menghangat.

Aku marah? Tidak, aku tak pernah marah atas diri yang mampu membuatku hancur seketika

Iklan

Penulis:

Lupakan masa lalu, hidup untuk sekarang dan belajar untuk masa depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s